Fisioterapis kunci dalam pengobatan Covid-19 | Malawi Nyasa Times

Direktur Fisioterapi Kesehatan dan Kebugaran Malawi, Dr George Chimatiro, mengatakan fisioterapis memiliki peran yang sangat penting dalam penanganan Covid-19.

Dr Chimatiro berbicara kepada Nyasa Times pada hari Rabu, 8 September, Hari Fisioterapi Sedunia.

Hari Fisioterapi Sedunia secara historis didirikan pada tahun 1951. Namun disepakati secara global pada tahun 1996 bahwa itu harus diperingati pada tanggal 8 September.

Tujuan hari ini adalah untuk menghubungkan fisioterapis di seluruh dunia dalam menanggapi kebutuhan mendesak yang berbeda secara global. Misalnya, Covid-19 adalah kebutuhan mendesak dan fisioterapis di seluruh dunia sepakat bahwa tema untuk tahun ini adalah Covid Panjang dan peran rehabilitasi.

Fisioterapi sebagai salah satu komponen atau kader dalam rehabilitasi menjadi penting dalam menghadapi Long Covid.

Menurut Dr Chimatiro, Long Covid mengacu pada masalah berkepanjangan yang dialami seseorang sejak bulan ketiga setelah menderita Covid-19. Gejala Long Covid termasuk kelelahan terus menerus, sesak napas terus menerus, nyeri tubuh secara umum dan nyeri sendi. Gejala-gejala tersebut mempengaruhi aktivitas seseorang dalam pergi sehari-hari yang meliputi jalan-jalan, pergi ke kantor, mengunjungi tempat-tempat dan relasi.

“Penelitian terus menerus menunjukkan bahwa fisioterapis adalah profesional kunci yang dapat mengatasi masalah Long Covid. Mereka melakukan ini dengan memanfaatkan keterampilan yang mereka pelajari di universitas.

“Mereka memiliki persyaratan yang memungkinkan mereka untuk mengakses seseorang, mengidentifikasi masalah mereka dan kemudian bekerja pada masalah dan akhirnya mempromosikan fungsi individu,” jelas Dr Chimatiro.

Fisioterapis Malawi mengadakan presentasi pada hari itu melalui webinar untuk membahas cara terbaik merawat orang yang menderita Long Covid.

“Kami melakukan banyak hal untuk meningkatkan kesadaran kepada masyarakat umum tidak hanya tentang Covid tetapi juga fisioterapi,” tambah Dr Chimatiro.

Lebih lanjut Dr Chimatiro menjelaskan bahwa ada kekurangan fisioterapis di dalam negeri karena lulusan pertama fisioterapis keluar dari Fakultas Kedokteran pada tahun 2014 karena sebelum 2010 tidak ada perguruan tinggi yang melatih fisioterapis di Malawi.

“Kami masih bergulat dalam hal angkatan kerja untuk melayani penduduk Malawi yang terus bertambah,” katanya.

Tantangan yang dihadapi Malawi saat ini adalah menjangkau masyarakat pedesaan dengan fisioterapi karena sebagian besar layanan fisioterapi ditawarkan di daerah perkotaan.

Ada juga contoh ketika beberapa petugas kesehatan tidak tahu kapan harus merujuk pasien untuk fisioterapi.

Hari Fisioterapi Sedunia menandai persatuan dan solidaritas komunitas fisioterapi global. Ini adalah kesempatan untuk mengenali pekerjaan yang dilakukan fisioterapis untuk pasien dan komunitas mereka.

Ikuti dan Berlangganan Nyasa TV :

Berbagi adalah peduli!

Disponsori Oleh : Hongkong Prize